Monday, February 9, 2009

kisah idup BUDI ANDUK

Hari ini (8/2) usia Budi Anduk genap 40 tahun. Matang secara usia, pria yang sempat putus harapan karena terlalu lama menjadi pengangguran itu merasa masih butuh banyak belajar untuk lebih mengembangkan karir. Meski, Budi bukan hasil proses instan.



Jumat (6/2) pagi, pria berkulit gelap, berbadan tambun, dan berambut kriwil dengan anting kecil di kuping kirinya itu sudah tampak segar. Di teras rumah kontrakannya di Jatiwaringin, Pondok Gede, Jakarta, pria bernama lengkap Budi Prihatin tersebut hendak beraktivitas.

Saat Jawa Pos tiba di rumahnya, Budi mengaku akan pergi ke studio di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, untuk take voice (rekaman suara). ''Untuk iklan. Syutingnya sudah kemarin. Sekarang tinggal isi suara,'' jelasnya.


Budi memang seperti sedang ''memanen'' hasil kerja kerasnya pada masa lalu. Satu per satu berbagai tawaran kerja berdatangan. Hanya, tidak bisa diterima seluruhnya. ''Waktunya susah. Ane sih kalau waktunya bisa, ya diterima,'' ucap pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1968, tersebut.

Jadwal kerja yang sudah ada memang cukup padat. Syuting Tawa Sutra di antv saja, menurut dia, mulai Senin sampai Kamis pukul 09.00-22.00. ''Selebihnya ngamen saja. Ada acara di Indosiar setiap Minggu pukul 08.00-24.00,'' tuturnya.

Karena itu, Budi hanya memiliki waktu luang Jumat dan Sabtu. Dua hari sisa tersebut tidak mungkin jika harus diisi dengan syuting sinetron atau film. ''Makanya, ane bilang bergantung waktu. Kalau dua hari itu bisa buat kerja, ya kerja. Tapi, kalau nggak, ya libur saja di rumah,'' ujar bungsu di antara dua bersaudara kandung dan memiliki beberapa saudara tiri tersebut.

Kesibukan sekarang sangat disyukuri Budi. Sebelum terkenal seperti sekarang, dia merasa banyak waktu terbuang sia-sia. ''Lama nganggurnya ketimbang kerjanya,'' ungkapnya.

Setamat SMA pada 1986, Budi hanya nongkrong-nongkrong di sekitar rumahnya, ketika itu di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. ''Kalau lagi nganggur, ya nongkrong, ngapain lagi?'' tuturnya.

Saat-saat itu dirasa sebagai saat bahagia sekaligus menyedihkan. Bahagia, kata dia, karena merasakan kebebasan. Tidak ada yang mengatur jadwal tidur, jadwal bangun tidur, dan kegiatan sehari-harinya. ''Tapi, kalau lagi ingat, orang harus berusaha. Orang harus bergerak. Itulah bodohnya aku dulu,'' ungkap Budi menyadari.

Sering, kata dia, saat masih menganggur itu, dirinya nongkrong dengan sesama pengangguran malam-malam sampai pagi. ''Kalau lagi begadang begitu kan suka masak. Bawa telur, nasi, bikin nasi goreng di pinggir jalan,'' kenangnya.

Tidur pun di pinggir jalan. Sampai akhirnya, suatu hari, kebablasan sampai pagi. ''Bangun itu sudah pukul 07.00. Orang sudah pada wangi, rapi, pada jalan mau kerja. Sedangkan ane baru sadar. Akhirnya pulang, sampai rumah terusin lagi tidurnya,'' curhatnya lantas tertawa.

Sempat ada titik cerah ketika salah seorang temannya mengajak kerja sebagai pramuniaga di Pasaraya Manggarai pada 1991. ''Penasaran juga pengin dengar bule ngomong bahasa Inggris. Di sana kan banyak bule. Tapi, setahun doang. Menganggur lagi,'' paparnya yang ketika itu digaji Rp 100 ribu per bulan. (sugeng sulaksono/tia)

Budi Mengaku

Tidak suka masakan Eropa. "Lidah saya cocoknya tahu-tempe."

Tidak suka jalan-jalan. "Ane anak rumahan."

Sulit berhenti merokok.

Selalu bawa gitar ke lokasi syuting.

Pernah memanjangkan rambut sampai sepinggang.

No comments:

Post a Comment

Statistik

Traffic Rank :
Counter :  free web counter Counter Powered by  RedCounter
dns failure
Stats :
Total Artikel :
Page Rank